KHUTBAH PERTAMA
Ma’asyiral Muslimin Jamaah sholat idul adha rahimakumullah,
Segala puja untuk Allah Yang Maha Kuasa. Segala puji kepunyaan Allah Yang Maha Memiliki. Dan segala rasa syukur dihaturkan kepada Allah Yang Maha Mengatur.
Sholawat dan salam disampaikan kepada manusia agung tanpa cela Nabi Muhammad SAW. yang dengan washilahnya manusia mampu keluar dari zaman kegelapan menuju jaman yang penuh cahaya kebenaran.
Mengawali khutbhah idul adha pada pagi hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada jamaah sekalian, juga kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, kapan pun dan di mana pun kita berada serta dalam keadaan sesulit apa pun, dalam kondisi yang bagaimana pun, dengan cara melaksanakan segenap kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah ta’ala.
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Perayaan Hari Idul adha atau Idul qurban diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Di bulan Dzulhijjah ini ada dua peristiwadan ibadah besar yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Pada kedua ibadah itu, sosok Nabi Ibrahim merupakan tokoh sentral yang berperan dalam proses diperintahkannya kedua ibadah tersebut.
Nabi Ibrahim beserta keluarganya adalah teladan keluarga yang saleh. Sang ayah dan suami, yaitu Ibrahim kholilullah, serta istri-istri dan kedua putranya, semuanya adalah hamba-hamba yang saleh salihah. Hamba yang mampu memenuhi hak Allah dan hak sesamanya.
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Qurban menjadi ibadah yang diperintahkan Allah SWT. sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Kautsar ayat 2.”Maka sholatlah karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
Ibadah qurban adalah ibadah yang diwariskan dari nabiyullah Ibrahim as. Sejarah mencatat, pergolakan batin yang luar biasa saat Allah SWT. memerintahkan Ibrahim dalam mimpinya untuk menyembelih putra tercintanya Ismail as. Perintah ini tentulah membuat Ibrahim dan istrinya merasa bingung dan ragu, namun berkat kekuatan imannya Ibrahim rela dan berani untuk menjalankan perintah ini walaupun dengan rasa sedih dan haru.
Melihat kepatuhan yang luar biasa ini, kemudian Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan mengganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk untuk disembelih.
Dari peristiwa qurban ini, para ulama menjelaskan beberapa pelajaran.
1. Qurban sebagai Simbol Penyembelihan Nafsu
Ulama sufi menegaskan bahwa hewan yang kita sembelih sebenarnya adalah simbol dari sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah berpesan:
"Sembelihlah nafsumu dengan pedang mujahadah (perjuangan batin)."
Jika kita menyembelih domba namun tetap memelihara sifat rakus, atau menyembelih sapi namun tetap sombong, maka kita baru melakukan ritual, belum melakukan esensi qurban.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Ahmad:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu." (HR. Muslim).
2. Memutuskan Keterikatan Selain kepada Allah (Tajrid)
Nabi Ibrahim AS diperintahkan menyembelih Ismail AS bukan karena Allah membenci Ismail, melainkan karena Allah ingin membersihkan hati Ibrahim dari keterikatan berlebih kepada makhluk. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan:
"Tujuan dari setiap ibadah adalah untuk menghadirkan dzikrullah (mengingat Allah) dan mengosongkan hati dari selain-Nya."
Ismail dalam hidup kita mungkin adalah harta, jabatan, atau ego yang seringkali kita "Tuhankan" tanpa sadar. Kurban hari ini adalah momentum untuk menegaskan bahwa: Lailaha Illallah, tidak ada yang besar di hati ini, kecuali Allah.
3. Keikhlasan adalah Ruh dari Qurban
Ketahuilah, darah yang mengalir hanya sampai ke bumi, namun ketakwaanlah yang naik ke langit. Sebagaimana firman Allah:
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37).
Ibnu 'Athaillah al-Iskandari dalam Al-Hikam berkata:
"Amal itu laksana sosok jasad yang mati, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya."
Maka, mari kita berkurban dengan hati yang fana (lebur), merasa bahwa hewan ini milik Allah, harta ini milik Allah, dan diri kita pun akan kembali kepada Allah.
Karena Allah swt. tidak membutuhkan daging-daging hewan yang disembelih. Allah pun tidak membutuhkan kucuran darah dari leher hewan yang di-qurbankan. Karena itulah dalam qurban ada nilai sosial, daging-daging dibagikan kepada tetangga dan sesamanya terutama yang kurang mampu. Dengan qurban ada pergerakan ekonomi. Para peternak hewan kebagian rezeki. Penjual hewan juga mendapatkan untung. Inilah hkmah dibalik perintah qurban yang Allah syari’atkan.
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Ma’asyiral Muslimin jamaah sholat idul adha rahimakumullah,
Kembali kepada sosok Nabi Ibrahim as dan keluarganya.Kesalehan semua anggota keluarga menjadi syarat keharmonisan. Kepatuhan dan ketaatan kepada Allah menjadi modal dasar sebuah keluarga yang harmonis dan ideal.
Ibrahim sudah menunjukan cinta Allah melebihi cintanya kepada dunia. Secinta apapun kepada keluarga tidak menurunkan cintanya kepada Allah SWT. ini dibuktikan dengan rela untuk melakukan penyembelihan Ismail as demi menjalankan ketaatan kepada Allah swt.
Dengan ketundukan yang total kepada Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah kata pun. Sebuah potret keluarga saleh yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah.
Dialog indah antara keduanya terekam dalam al-Qur’an:
Artinya: “..... Ibrahim berkata: “Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS ash-Shaffat: 102).
Sebagaimana kita tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Sedangkan perkataan Nabi Ibrahim kepada putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?,” bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keragu-raguan. Nabi Ibrahim hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismail menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:
Maknanya: “Ismail menjawab: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat: 102).
Jawaban Ismail yang disertai “In sya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi.
Inilah hakikat cinta seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu ketaatan dan kepatuhan terhadap yang dicintainya. Tidak memperdulikan resiko dan akibat yang akan ia terima. Yang ada dalam benaknya adalah, “yang penting yang dicntainya suka dan merasa senang.”
Kecintaan yang luar biasa inilah yang melahirkan keharmonisan dan kesalehan keluarga Ibrahim as. Kesalehan-kesalehan yang bisa dijadikan pelajaran hidup dari keluarga Nabi Ibrahim diantaranya adalah …
PERTAMA, Nabi Ibrahim sangat kuat memegang teguh akidah dan syariat agamanya.
Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang memegang teguh Islam. Dia bukan pula termasuk (golongan) orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 68)
Nabi Ibrahim sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah ma’shum (selalu dijaga oleh Allah) dari kufur atau syirik, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang menunjukkan kehinaan jiwa, baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi nabi.
Nabi Ibrahim tidak pernah sedikit pun meragukan ketuhanan Allah. Beliau tidak pernah menyembah selain Allah, tidak pernah menyembah bulan, bintang dan matahari. Nabi Ibrahim tidak pernah menjual berhala bersama ayahnya. Nabi Ibrahim tidak pernah memintakan ampunan dosa kepada Allah untuk ayahnya yang musyrik. Dan Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan sifat qudrah (Mahakuasa) Allah ta’ala. Bahkan Beliau tidak pernah berdusta dalam setiap ucapan dan perbuatannya.
KEDUA, Nabi Ibrahim berdakwah dengan penuh hikmah.
Hal itu tercermin tatkala Nabi Ibrahim mengajak ayahnya untuk masuk ke dalam agama Islam sebagaimana diceritakan dalam QS al-An’am ayat 41-44. Nabi Ibrahim dengan menjaga adab seorang anak kepada orang tuanya menjelaskan dengan santun kepada ayahnya yang menyembah berhala bahwa berhala tidaklah dapat mendengar doa penyembahnya dan tidak dapat melihat penyembahnya. Yang demikian itu, bagaimana mungkin ia dapat memberi manfaat kepada penyembahnya, memberi rezeki kepadanya atau menolongnya. Ibrahim mengajak ayahnya untuk menyembah kepada Allah semata, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah.
KETIGA, Ibrahim berilmu dan memiliki hujjah yang kuat.
Nabi Ibrahim telah diberi hujjah yang kuat oleh Allah ta’ala sehingga selalu dapat mematahkan berbagai dalih yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam ketika berdebat.
Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Itulah hujjah yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya” (QS al-An’am: 83).
Karena memiliki hujjah yang kuat inilah, Nabi Ibrahim berhasil membungkam para penduduk daerah Harraan yang menganggap bulan, bintang dan matahari sebagai tuhan. Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak disembah karena mereka adalah makhluk yang mengalami perubahan, terbit lalu tenggelam. Sesuatu yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain pasti bukan tuhan. Karena sesuatu yang berubah pasti membutuhkan kepada yang mengubahnya. Sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain, berarti ia lemah. Dan sesuatu yang lemah tidak mungkin disebut tuhan yang layak disembah.
Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum masa kenabiannya dan Kami telah mengetahui dirinya” (QS al-Anbiya’: 51).
Allahu Akbar (3x) walillahilhamdu,
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Akhirnya kita berdoa, semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk meneladani kesalehan Nabi Ibrahim dan keluarganya serta merasakan hikmah ibadah qurban yang Allah perintahkan kepada orang beriman. Dan keluarga kita menjadi keluarga yang harmonis dan ideal sebagaimana keluarga Nabi Ibrahim as. Amin Ya Rabbal ‘alamin.
KHUTBAH KEDUA

Komentar
Posting Komentar