DILEMA MBG DI BULAN PUASA
Oleh Abdul Wahid
Ramadhan 1447 H semakin dekat, hiruk pikuk dan berita terkait bulan ramadhan semakin sering kita dengar. Di media sosial (medsos) lebih masif lagi. Postingan dan tayangan video-video pendek tentang ramadhan berseliweran di laman-laman online.
Diantara berita yang menarik adalah tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap diberikan selama bulan Ramadhan.
Seperti yang kita ketahui, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya melaksanakan program MBG untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Tercatat sudah ada sekitar 22 ribu lebih Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sampai bulan Januari 2026 dan telah menjangkau sekitar 60 juta lebih penerima manfaat.
Permasalahannya adalah jika pelaksanaan MBG bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, muncul kekhawatiran yang cukup beralasan, yaitu apakah kehadiran makanan di sekolah justru akan menggoda dan meningkatkan kecenderungan pelajar untuk tidak berpuasa?
Dengan kata lain, MBG di bulan Ramadhan berpotensi menjadi tantangan bagi keteguhan ibadah puasa di kalangan pelajar. Di kalangan para pendidik, kekhawatiran ini tentu sangat masuk akal. Para pendidik yang bersusah payah menjaga dan membimbing para siswa untuk kuat berpuasa, kemudian ada sesuatu yang berpotensi mengganggu keteguhan mereka. Wajar jika merasa khawatir karenanya.
Bagi pelajar, terutama tingkat SMP dan SMA, tantangan menjalankan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menjaga konsistensi di tengah godaan dan tekanan lingkungan serta dorongan psikologis yang kuat.
Secara psikologis, remaja berada pada fase di mana kontrol impuls mereka masih dalam tahap perkembangan. Kontrol impuls adalah kondisi kesehatan mental yang membuat seseorang kesulitan menahan dorongan, emosi, atau perilaku tiba-tiba yang berpotensi membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Dalam konteks MBG, maka kehadiran fisik makanan yang lezat dan bergizi di hadapan mata, terutama jika dibagikan di lingkungan sekolah, menciptakan godaan visual yang sangat berat.
Ketika program MBG tetap berjalan di siang hari saat Ramadhan, sekolah yang seharusnya menjadi ruang pendukung ibadah berubah menjadi area penuh stimulan atau perangsang untuk tidak berpuasa.
Hal ini diperparah dengan fenomena peer pressure atau tekanan teman sebaya. Jika sebagian kecil siswa mulai memutuskan untuk tidak berpuasa karena alasan kesehatan atau sekadar "mumpung ada makanan gratis", hal ini bisa memicu efek domino bagi siswa lain yang awalnya ragu-ragu menjadi berani untuk berbuka puasa di siang hari.
Kekhawatiran lain yang muncul adalah adanya normalisasi "batal puasa" secara kolektif. Asumsi bahwa MBG dapat menurunkan niat puasa juga berakar pada teori normalisasi tersebut.
Jika distribusi makanan dilakukan secara terbuka dan dilakukan pada saat para pelajar sedang lapar-laparnya berpuasa, maka, tindakan tidak berpuasa, atau "NGAGODIN" atau "mokel" yang biasanya dianggap tabu dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, perlahan-lahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan biasa.
Pelajar SMP dan SMA yang secara fisik sudah cukup kuat untuk berpuasa seharian mungkin akan mulai mencari pembenaran (justification). Pikiran seperti, "sayang kalau dibuang," atau "Ini kan program kesehatan dari pemerintah," bisa menjadi alat negosiasi batin untuk membatalkan puasa lebih awal. Dalam konteks ini, program yang niatnya baik, untuk kesehatan, justru bisa berbenturan dengan nilai-nilai spiritual yang sedang ditanamkan di lembaga pendidikan.
Tentu saja, kita tidak bisa mengabaikan bahwa ada siswa non-muslim atau siswa yang berhalangan (sakit atau haid) yang tetap membutuhkan asupan nutrisi.
Namun, jika distribusinya tidak diatur dengan bijak, maka kehadiran MBG di jam sekolah berpotensi besar merusak iklim ibadah puasa di sekolah.
Tanpa adanya pengalihan waktu distribusi, program ini dikhawatirkan hanya akan mencetak generasi yang sehat secara fisik namun rapuh secara disiplin spiritual. Sekolah semestinya tetap menjadi benteng moral yang mendukung siswa untuk melatih kontrol diri melalui puasa, bukan malah menjadi tempat yang memudahkan mereka untuk menyerah pada rasa lapar.
Akhirnya, kami berharap agar pemangku kebijakan mengkaji ulang penerapan kebijakan MBG selama ramadhan. Paling tidak memperbaiki pola distribusinya sehingga bisa meminimalisir dampak negatif yang bisa muncul.
Sekali lagi, kita berharap para pelajar tumbuh menjadi generasi harapan bangsa yang memiliki ketahanan iman yang mampu menahan berbagai godaan selama berpuasa di bulan Ramadhan.
#catatanabwah

Komentar
Posting Komentar